‘Hai Diva..!. Semoga kamu suka ini..
-Penggemar rahasiamu- ‘.
‘Pasti kau bertanya-tanya, siapa aku.
Iya kan? Hehe.. -Penggemar rahasiamu- ‘.
‘Kali ini yang bungkus aku sendiri
loh.. cantik nggak, cantik nggak? Enggak? Iya iya, masih cantikan kamu kok..
percaya deh! :D -Penggemar rahasiamu- ‘.
Surat itu selalu hadir dalam laci
Diva, disertai cokelat.
“Penggemar Rahasia?”
Hmm.. siapa ya..?.
Hmm.. siapa ya..?.
Hari ini Diva memantapkan diri untuk
menemui sosok ‘Penggemar Rahasia’ itu.
Semoga dia ada tepat saat aku datang.
Batin Diva penuh harap.
Ceklek!
Pintu kelas terbuka..
Sial! Tiada seorang pun di ruangan itu!.
Sial! Tiada seorang pun di ruangan itu!.
Diva merogoh laci mejanya. Tiada
cokelat disana!. Kini matanya mencari-cari di setiap sudut kelas.
Hey!
Ada…
Ada…
Ian disana?. Sedang apa dia?.
“Ian?” pekik Diva penuh tanda tanya.
“Ehm.. kau tadi mencari ini?” tanya
Ian.
Ian memberikan cokelat. Seperti biasa,
terbungkus rapi dengan kertas kecil yang diselipkan disana!.
Tunggu tunggu! Jangan bilang kalau
penggemar rahasiaku itu … Ian?!. Sangkal Diva heran.
“Jadi kamu, yang jadi penggemar
rahasia itu?” tanya Diva balik.
Ian menunduk, mati gaya. Malu, takut,
senang, semua rasa itu bercampur aduk.
“Ian..?” ulang Diva.
“Iya, aku yang ngirim itu” sahut Ian,
masih menunduk.
“Tapi kenapa kamu nggak jujur aja?”
ujar Diva.
“Aku takut kalo ternyata kamu juga
nggak ngerasain rasa yang sama kayak aku..” balas Ian.
Diva pura-pura bego. “Rasa apa?.
Temen? Iya, kita temen! Sahabat?…” kalimat Diva terpotong begitu Ian
menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya.
Ian memandang Diva penuh harap.
Sedangkan Diva memandang Ian penuh sejuta tanda tanya.
“Semacam cinta..” lirih Ian. Namun
terdengar jelas di telinga Diva.
Hening seketika..
“K kk kamu mau ng ngg nggak, j ja..adi
sseseorang yang berarti, bb b buat aku?” tanya Ian gugup. Ian mencoba rileks
untuk melanjutkan perkataannya. “Ehm.. kamu mau nggak, jadi pacar aku?”
tambahnya, lalu melepas tangannya dari bibir Diva.
Aku…
Emm…
Aku…
Aku…
Diva menarik nafas panjang.
“Aku mau kok, jadi pacar kamu..” jawab
Diva.
Untaian senyum pun terpancar indah di
wajah kedua insan ini.
Ian langsung memeluk Diva erat. Senang
— haru, rasa cinta ini telah terjawab.
Dari ‘Cokelat’ sampai ‘Surat-surat’ misterius.. hingga akhirnya.. rasa cinta itu terbayar sudah..
Dari ‘Cokelat’ sampai ‘Surat-surat’ misterius.. hingga akhirnya.. rasa cinta itu terbayar sudah..
“I love you, Diva..”.
“Love you too, Ian..”.
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar